Renungan Emha Ainun Nadjib - Tentang Kriteria Kepemimpinan | infosipaijo



 Salah satu sebab dari kondisi Bangsa dan Dunia yang semakin hari semakin rusak hebat dan mengalami krisis yang parah di setiap lini adalah rusaknya alam kepemimpinan. Bahkan krisis kepemimpinan bisa jadi adalah yang paling besar damage powernya terhadap kehidupan karena alam diadakan adalah untuk diatur dan di khalifahi oleh manusia, baik buruknya atas izin Tuhan, telah di bergantungkan pada wawasan, dan juga perlakuan manusia itu sendiri terhadap alam. 

http://info-sipaijo.blogspot.com/2015/07/renungan-emha-ainun-nadjib-tentang.html
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)


Nah sesuai dengan Judul postingan ini, Lalu apa Kata Emha  Ainun Nadjib (Cak Nun) tentang Kriteria yang sebenarnya dari sebuah Kepemimpinan? Kepemimpinan yang bagaimana yang ideal? berikut ini adalah sebuah ulasan atau sebuah renungan dari cak nun mengenai Kriteria kepemimpinan (dalam pembahasan yang sederhana kata beliau) ??!!

Langsung saja, mari kita simak bersama pemikiran beliau mengenai syarat-syarat dari kepemimpinan berikut ini, semoga bermanfaat.


Langsung saja, mari kita simak bersama pemikiran beliau mengenai syarat-syarat dari kepemimpinan berikut ini, semoga bermanfaat.



Dalam terminologi yang sederhana, wacana utama kriteria kepemimpinan sekurang-kurangnya harus melingkupi tiga dimensi: kebersihan hati, kecerdasan pikiran, serta keberanian mental.
Jika pemimpin hanya memiliki kebersihan hati saja, misalnya, tanpa didukung kecerdasan intelektual dan keberanian, maka kepemimpinannya bisa gampang stagnan.

Begitu pula sebaliknya. Jika pemimpin hanya memiliki kecerdasan belaka tanpa didukung kebersihan hati dan keberanian, maka jadinya seperti di 'menara gading' alias monumen yang bukan hanya tanpa makna, tapi juga nggangguin kehidupan rakyatnya. Apalagi, jika pemimpin hanya memiliki keberanian saja tanpa kebersihan hati dan kecerdasan, maka akan menjadikan keadaan semakin kacau dan buruk.



Sebenarnya, kriteria kepemimpinan sama persis dengan kriteria manusia biasa atau orang kebanyakan, Kalau omong tentang pemimpin, sebaiknya jangan muluk-muluk. Berpikir sederhana saja. Misalnya. syarat menjadi suami. Pertama, harus manusia.
Kedua, harus laki-laki. Baru yang ketiga, keempat, dan seterusnya.

Syarat suami harus manusia itu banyak tak diperhatikan orang, padahal jelas banyak suami berlaku seperti ia bukan manusia. Bertindak hewaniah kepada istrinya, juga kepada orang lain. Bukankah menjadi manusia itu sendiri saja sudah sedemikian sukarnya? Kenapa kita punya spontanitas untuk mentertawakan dan meremehkan bahwa syarat menjadi suami itu harus manusia?

Jadi, syarat menjadi Presiden atau Lurah itu ya sedehana saja: harus manusia. Sebab ratusan juta rakyat di muka bumi sengsara dalam berbagai era sejarahnya, gara-gara pemimpin negaranya berlaku tidak sebagaimana manusia, padahal semua orang sudah menyepakati bahwa ia manusia. Bukankah perilaku kebinatangan itu sebenarnya peristiwa jamak dan 'rutin' dalam konstelasi perpolitikan dan kekuasaan? Juga persaingan ekonomi?

Dulu saya bangga hanya ada istilah political animal dan economic animal, tidak ada cultural animal. Saya bersombong yang punya kecenderungan kebinatangan hanya pelaku politik dan ekonomi, kebudayaan tidak. Tapi ternyata itu salah. Cultural animal juga bukan main banyaknya. Termasuk di bidang kesenian, hiburan, informatika dll. Mungkin sekali termasuk saya sendiri.

Kemudian syarat menjadi suami yang kedua adalah harus laki-laki. Ternyata banyak suami berlaku tidak laki-laki. Ia jantan ketika di ranjang, tapi tidak dalam mekanisme politik rumah tangga, tidak di dalam pergaulan. Betapa banyaknya lelaki yang ternyata betina, yang berlaku tidak fair, curang, culas, suka mengincar, menyuruh bikin kerusuhan supaya nanti dia yang jadi pahlawan, merancang membakar gedung parlemen supaya bisa bikin dekrit, dan lain sebagainya.

Meskipun, dari sudut ideologi pembelaan kaum perempuan, saya tidak mantap dengan etimologi dan filosofi kebahasaan kita.
Kenapa orang yang jujur kita sebut jantan, yang pengecut kita sebut betina atau perempuan. Bukankah kejantanan yang dimaksud di situ bisa juga dilakukan oleh wanita?
Bisa saja ada lelaki betina dan perempuan jantan. Jadi yang dimaksud pemimpin harus laki-laki bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam pengertian kepribadian.

Baca Juga : 



Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment