Kisah Inspiratif Dari Negeri Cina : Legenda Kipas Bulu Angsa Zhuge Liang


Pada kesempatan kali ini, admin akan mengutip sebuah kisah legenda kuno yang cukup menarik dari Negeri Tirai Bambu, Cina.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran hidup yang bermanfaat dari kisah hikmah Dari Negeri Cina ini, sehingga dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup kita ke arah yang lebih baik lagi.


Baiklah, Langsung saja kita Nikmati Kisahnya,


Cerita Inspiratif : 

Legenda Kipas Bulu Angsa Zhuge Liang.


Zhuge Liang ( 诸葛亮 181–234 AD) adalah seorang negarawan terkenal dan ahli strategi militer tersohor selama periode Tiga Negara (Three Kingdom), ia merupakan salah seorang Pahlawan Klasik terkenal dari Bangsa Tiongkok kuno. Sejak zaman kuno,  banyak legenda dan kisah hebat tentang kehidupannya.

Menurut legenda, ketika Zhuge Liang masih kecil, dia lincah dan cerdas, tapi ia tidak bisa bicara.

Ketika ia berusia 9 tahun, ia disembuhkan oleh orang tua, berambut putih – dia adalah Pendeta Tao.

Setelah itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao, dan mulai mempelajari astronomi, geografi, filsafat yin dan yang, Trigram, dan juga Seni perang.

Zhuge Liang adalah seorang yang cerdas, rajin, diberkahi dengan ingatan tajam, dan sangat dicintai oleh gurunya.

Ketika berusia 17 tahun, tiba-tiba nasib Zhuge Liang berubah. Suatu hari, ketika ia melewati sebuah biara sepi, angin mulai bertiup kencang, hujan badai turun dengan sangat lebat.

Dia tidak punya pilihan selain masuk ke dalam biara untuk berlindung sampai badai berlalu.

Sementara ia berada di sana, seorang gadis muda menyambut dan mengundang Zhuge Liang ke rumahnya untuk minum teh. Dia mengatakan bahwa orangtuanya telah meninggal, dan tinggal sendirian di biara.


Gadis muda itu berusia 16 tahun. Dia sangat menarik dan tampak seperti bidadari, dengan alis halus dan mata yang besar. Saat melihatnya, hati Zhuge Liang berdebar-debar kegirangan.

Setelah hujan berhenti, ia pun bangkit untuk pergi.

Gadis muda itu tersenyum padanya, dan berkata: ".

Jika Anda merasa haus dan lelah, silakan datang kembali dan istirahat, minum teh dengan saya"

 Dalam perjalanan pulang, Zhuge Liang merasa sedikit aneh, dan bertanya-tanya mengapa sebelumnya dia tidak pernah melihat seseorang pun yang tinggal di biara yang baru saja dia tinggalkan.

Setelah pertemuan pertama mereka, Zhuge Liang sering pergi ke biara untuk berbicara, bercanda, dan bermain catur dengan gadis muda itu, semenjak itu semuanya menjadi terganggu dan ia merasa lelah berguru dengan Pendeta Tao.

Ia menjadi linglung, dan gagal menghafal sesuatu yang diajari Gurunya. Saat membaca, ia tidak bisa menaruh perhatian pada tugas-tugasnya.

Ketika Gurunya mengajukan pertanyaan kepadanya, dia selalu memberikan jawaban yang tidak relevan.

 Melihat masalah ini, Pendeta Tao mendesah dan berkata kepadanya: "Lebih mudah untuk menghancurkan sebuah pohon daripada memupuknya menjadi tumbuh subur.

Tampaknya usaha saya selama bertahun-tahun telah sia-sia! "



Pendeta Tao menunjuk ke sebuah pohon di halaman, dimana tanaman rambat sudah melilitkan dahannya, dan berkata pada Zhuge Liang :

"Apakah anda tahu mengapa pohon itu diambang sekarat dan tidak dapat tumbuh dengan baik"?

"Karena sedang dicekik oleh tanaman rambat!" Jawab Zhuge Liang.

"Ya! Pohon yang tumbuh di atas gunung yang penuh dengan batu dan hanya ada sedikit tanah, memang sulit.

Tapi jika pohon itu berhasil mendorong akarnya ke bawah, maka cabang-cabangnya bisa tumbuh ke atas, menjadi lebih besar dan kuat.

Namun, seberapapun akarnya berusaha menembus tanah, ketika pohon itu dicekik oleh tanaman rambat, dia tidak dapat tumbuh lagi. Oleh karena itulah kita mengatakan:

"Pohon takut terjerat oleh tanaman rambat yang lembut."

Zhuge Liang menyadari bahwa ia tidak bisa menyembunyikan rahasianya dari Guru nya lagi, dengan malu-malu ia pun kemudian bertanya:

"Guru! Kau tahu situasi saya? "

Pendeta Tao tersebut berkata: "Dia yang tinggal di dekat air tahu watak si ikan, dan dia yang tinggal di dekat bukit tahu suara burung. Memperhatikan Anda lebih dekat dan mengamati tindakan Anda, bagaimana mungkin saya tidak tahu pikiran Anda? "

Pendeta Tao kemudian mengungkap identitas gadis muda yang sebenarnya.


Setelah terdiam beberapa saat, Pendeta Tao berkata dengan sungguh-sungguh kepada Zhuge Liang:

"Saya akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa gadis muda yang Anda sukai itu adalah bukan manusia.

Awalnya, dia adalah seekor burung angsa di Istana Kayangan, tapi dia mencuri persik Ibu Ratu Kayangan dan memakannya.

Sebagai hukuman dia diusir ke bumi, dan ia mengubah dirinya menjadi gadis cantik. Tapi dia mempunyai sifat dungu, malas, dan penuh nafsu. Anda hanya memperhatikan wajahnya yang cantik, tetapi Anda tidak tahu bahwa dia adalah unggas. Jika Anda terus menjadi begitu bodoh, Anda tidak akan menjadi apa-apa dalam hidup Anda! Suatu hari, jika Anda tidak mendengarkannya, dia akan menyiksa Anda. "

Zhuge Liang terkejut, cepat-cepat dia bertanya pada gurunya apa yang harus ia lakukan.

Pendeta Tao berkata: " Angsa itu dengan teratur terbang ke Bima Sakti pada tengah malam untuk mandi dengan wujud sebenarnya.

Pada saat itu, masuklah ke kamarnya dan bakar pakaiannya. Pakaian ini mereka curi dari Istana Surgawi.
 Jika pakaiannya dibakar, ia tidak akan bisa berubah menjadi manusia lagi. "

Kemudian Gurunya memberikan sebuah tongkat berkepala naga.

"Ketika angsa melihat biara terbakar, ia pasti segera terbang kembali dari Bima Sakti. Ketika dia melihat Anda membakar pakaiannya, dia pasti tidak akan membiarkan Anda pergi. Jika burung itu mencoba untuk menyakiti Anda, Anda bisa memukulnya dengan tongkat ini. Anda harus ingat itu! "

Malam itu saat tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Seperti yang diharapkan, ia melihat pakaian gadis muda di atas tempat tidur, ia segera menyalakan api.

Sementara angsa itu mandi di Bima Sakti, dan melihat api keluar dari biara, angsa itu turun ke bumi dengan kecepatan kilat.

Saat melihat Zhuge Liang membakar pakaiannya, angsa bergegas ke arahnya, berusaha mematuk matanya.

Dia segera mengangkat tongkatnya dan memukulnya jatuh ke tanah. Dia meraih ekornya, tapi ia berjuang keras dan terbang menjauh. Hanya tersisa bulu ekor saja di tangan Zhuge Liang.

Setelah itu, untuk mengingat pelajaran ini, Zhuge Liang membuat kipas dari bulu angsa tersebut dan ia memegang di tangannya untuk mengingatkan dirinya bahwa ia harus berhati-hati tentang segala sesuatu, terutama hal-hal dengan penampilan luar yang menarik.

Ini adalah asal mula mengapa Zhuge Liang selalu memegang kipas bulu angsa di tangannya.

Sumber ;  Kebajikan ( De 德 ) .
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment